Pembicaraan baru mengenai konflik di Timur Tengah dijadwalkan dimulai pada hari Minggu, dengan kedatangan negosiator Iran dan Wakil Presiden AS, J.D. Vance, di kota tuan rumah di Swiss. Sementara itu, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz lagi menyusul serangan Israel di Lebanon.
Sebelum terbang ke Eropa, Vance menyatakan harapannya untuk mencapai kemajuan dalam isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon. Ia menegaskan bahwa kedua hal tersebut akan menjadi fokus utama dalam perundingan yang akan berlangsung.
Pembicaraan lanjutan sebelumnya dijadwalkan di Swiss pada hari Jumat, namun terpaksa ditunda saat Israel melancarkan serangan mematikan di Lebanon setelah empat tentaranya tewas dalam pertempuran. Pemerintah Washington kemudian mengumumkan gencatan senjata yang diperbarui pada hari Jumat, sebagai bagian dari kesepakatan awal dengan Iran. Namun, pada hari Sabtu, bentrokan kembali terjadi antara pasukan Israel dan pejuang Hezbollah, dengan masing-masing pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata.
Menanggapi apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran kontrak” oleh AS dan “pelanggaran terus-menerus rezim Zionis terhadap gencatan senjata di Lebanon selatan”, komando militer Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas, dan sebelumnya sempat diblokade oleh Iran selama sebagian besar konflik ini, yang menimbulkan dampak besar bagi pasar energi global.
Penutupan Selat Hormuz memiliki relevansi yang signifikan bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor energi yang sangat bergantung pada stabilitas harga dan pasokan energi dunia. Setiap gangguan di jalur ini dapat memengaruhi harga energi domestik dan kestabilan ekonomi. Oleh karena itu, perkembangan dalam perundingan ini dan situasi di Timur Tengah sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia.