0 Comments

Jakarta, CNN Indonesia — Antara tahun 1876 hingga 1878, dunia mengalami salah satu bencana terparah yang tercatat dalam , yang menyebabkan global dengan korban jiwa diperkirakan antara 30 hingga 60 juta orang. Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan iklim Deepti Singh dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia, menyebutkan bahwa bencana ini diakibatkan oleh fenomena yang mempengaruhi banyak wilayah di dunia.

“Kekeringan yang berlangsung selama dua tahun ini melanda hampir seluruh belahan bumi, mulai dari Brasil hingga India dan Cina, memusnahkan sekitar 3 persen dari populasi dunia pada masa itu,” ungkap Deepti Singh. Para ahli berpendapat bahwa El Niño, yang dipicu oleh peningkatan suhu di Samudra Pasifik khatulistiwa, menjadi salah satu penyebab utama dari dampak iklim yang ekstrem ini.

Dalam makalah yang dipublikasikannya, Singh dan timnya memberikan bukti kuantitatif bahwa perubahan iklim yang parah ini kemungkinan besar disebabkan oleh salah satu kejadian El Niño terkuat yang pernah tercatat. Mereka juga menemukan bahwa kondisi iklim ekstrem lainnya mungkin turut berkontribusi pada kelaparan tersebut.

Menurut Jurnal American Meteorological Society, peristiwa kelaparan yang terjadi antara 1876 dan 1878 adalah yang paling parah dan meluas dalam 150 tahun terakhir. Penderitaan akibat kelaparan ini sangat dirasakan di Asia Selatan dan Timur, Brasil, serta Afrika, dengan total korban jiwa diperkirakan melebihi 50 juta. Kekeringan panjang yang terjadi di India, Cina, Mesir, Maroko, Ethiopia, Afrika Selatan, Brasil, Kolombia, dan Venezuela memperburuk situasi tersebut.

Data sejarah mencatat bahwa jumlah kematian akibat kelaparan di India berkisar antara 12,2 hingga 29,3 juta, di Cina antara 19,5 hingga 30 juta, dan sekitar 2 juta di Brasil, yang setara dengan 3 persen dari jumlah populasi global pada saat itu. “Dapat dikatakan bahwa ini adalah terburuk yang pernah menimpa umat manusia dan sebanding dengan dampak Perang Dunia serta epidemi influenza tahun 1918/1919,” tulis jurnal tersebut.

Studi itu juga menemukan bahwa kekeringan yang melanda Tiongkok utara antara 1876-1878 adalah yang terparah dalam 300 tahun terakhir, berdasar pada rekonstruksi curah hujan musiman di cekungan Sungai Kuning. Sementara itu, Brasil timur laut mengalami kekeringan parah, dan beberapa wilayah di pesisir barat laut serta tenggara Amerika Selatan mengalami curah hujan yang sangat intens dan banjir selama periode yang sama.

Analisis lebih lanjut mengaitkan kondisi ekstrem tersebut dengan fenomena serupa El Niño, dan penelitian ini menjadi salah satu yang pertama untuk mengeksplorasi penyebab kekeringan berskala global sebelum, selama, dan setelah kejadian El Niño di tahun 1877-1878.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts