Kasus bunuh diri yang melibatkan remaja di Hong Kong mencapai angka tertinggi dalam satu dekade pada tahun lalu, meskipun secara keseluruhan terdapat penurunan 10 persen dalam jumlah kasus bunuh diri di seluruh populasi, yaitu menjadi 1.019 kasus. Hal ini terungkap dalam laporan tahunan pengadilan koroner yang dirilis bulan lalu.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa jumlah bunuh diri menurun di hampir semua kelompok usia, kecuali pada kelompok usia remaja antara 10 hingga 19 tahun. Pada tahun lalu, tercatat 46 remaja berusia 10 hingga 19 tahun yang mengakhiri hidup mereka, meningkat dari 34 kasus pada tahun sebelumnya, dan ini menjadi angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak dari kasus-kasus ini melibatkan jatuh dari ketinggian.
Selain itu, terdapat juga satu kasus bunuh diri yang melibatkan seorang gadis berusia di bawah 10 tahun. Situasi ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di kalangan anak muda semakin mendesak untuk diperhatikan.
Kelompok usia yang mengalami penurunan paling tajam adalah mereka yang berusia 40 hingga 49 tahun, dengan jumlah kasus yang tercatat sebanyak 138, turun 26 persen dari 186 kasus pada tahun sebelumnya. Meskipun total kasus bunuh diri mengalami penurunan 10 persen dibandingkan dengan puncaknya yang tercatat pada tahun 2024, yakni 1.138 kasus, jumlah ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka tiga digit yang tercatat sebelum pandemi.
Fenomena ini menjadi sorotan penting, terutama bagi kalangan remaja yang tidak hanya di Hong Kong, tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dengan meningkatnya tekanan sosial, tantangan mental, dan dampak dari isolasi akibat pandemi, pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan perhatian terhadap kesehatan mental remaja. Edukasi, dukungan psikologis, dan penguatan jaringan sosial dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa mendatang.