SEATTLE — Mauricio Roberto Pochettino Trossero, yang lahir dan dibesarkan di lahan pertanian di provinsi Santa Fe, Argentina, kini berperan sebagai pelatih tim sepak bola pria Amerika Serikat. Di usianya yang ke-54, Pochettino telah membawa timnya melaju ke babak 16 besar Piala Dunia, sekaligus merebut hati publik Amerika dengan pesan-pesan motivasionalnya: Mimpi. Percaya.
Pochettino, yang merupakan anak peternak sapi generasi ketiga di dekat kota kecil Murphy, Argentina, awalnya hanya mengenal Amerika sebagai negara asing yang dolar-nya mempengaruhi harga pasar ternak. Ia menghabiskan waktu di ladang, mengurus babi, dan menyaksikan ayahnya bekerja keras hingga senja, yang membentuk etos kerja yang kuat dalam dirinya. Karirnya di sepak bola membawanya ke berbagai penjuru dunia, termasuk Spanyol, Prancis, dan Inggris, namun cintanya kepada Argentina tetap tak tergoyahkan. Aroma anggur Argentina selalu mengingatkannya pada tanah kelahirannya.
Ketika memutuskan untuk memimpin tim nasional Amerika pada tahun 2024, Pochettino merasa seperti orang asing. Ia masih tinggal di London dan Barcelona, meski pernah mengunjungi Amerika selama tur pramusim bersama klub-klub Inggris seperti Tottenham dan Chelsea. Namun, ia tidak sepenuhnya mengenal negara yang ia pimpin. Selama 21 bulan terakhir, Pochettino berusaha mengenal dan memahami budaya Amerika.
“Rasanya dia benar-benar terhubung dengan budaya di sini,” ungkap bintang Amerika, Christian Pulisic, bulan lalu. Dari sepak bola perguruan tinggi hingga musik country, serta dari lagu “Country Roads” hingga melempar bola pertama di pertandingan Major League Baseball, Pochettino telah merangkul berbagai aspek budaya Amerika yang ikonik.
Perkenalannya dengan Amerika dimulai sebelum ia tiba di Bandara LaGuardia pada pertengahan September 2024. Sebagai pelatih yang sering berkunjung, ia telah mengunjungi beberapa kota seperti Seattle dan Chicago, namun ia tidak benar-benar mengenal negara ini. Saat tiba di New York, ia terlihat terpesona oleh gedung-gedung pencakar langit, mengunjungi toko Nike, dan berkeliling Manhattan dengan taksi.
Indoktrinasi Pochettino terhadap budaya Amerika berlangsung secara bertahap. Ia mengikuti kamp latihan di Austin dan St. Louis, namun waktu tersebut lebih banyak dihabiskan untuk mengenal pemainnya. Di luar kamp latihan, Pochettino mulai menjelajahi cinta yang tumbuh terhadap budaya Amerika. Dalam perjalanan ke Southern California untuk MLS Cup, ia menyaksikan pertandingan NFL Los Angeles Rams dari suite pemilik di SoFi Stadium sambil menikmati hot dog.
Pochettino juga mencoba mengenakan topi dari Shellback Tavern, yang menjadi fenomena di kalangan selebriti yang berkunjung ke bar tersebut. Ia bahkan pernah makan di Chick-fil-A dan bertemu dengan ketua perusahaan tersebut, Dan Cathy, saat berkunjung ke Georgia. Ia menyadari bahwa pandangan tentang masakan Amerika sering kali keliru. “Orang bilang orang Amerika tidak punya makanan sehat. Sebenarnya, kalian punya makanan sehat,” ujarnya kepada sekelompok wartawan. Ia mengakui ada banyak restoran cepat saji, tetapi juga banyak pilihan makanan organik di Whole Foods.
Melalui berbagai pengalaman ini, Pochettino menyadari bahwa Amerika itu beragam dan tidak bisa dipandang sebagai satu kesatuan. Setiap daerah memiliki karakter dan budaya yang unik, menunjukkan bahwa tidak ada satu budaya Amerika yang tunggal.