IRVINE, California — Saat menyaksikan pertandingan di stadion Raymond James di Tampa, Florida, November lalu, saya merasakan kekhawatiran akan hasil yang mencolok. Timnas AS melakukan rotasi besar-besaran setelah kemenangan atas Paraguay hanya tiga hari sebelumnya. Mauricio Pochettino, pelatih timnas, menurunkan skuad yang sebagian besar terdiri dari pemain yang tidak berpengalaman di Piala Dunia 2022, hanya menyisakan Sergiño Dest dan Haji Wright dari skuad tersebut. Di sisi lain, Uruguay menampilkan pemain-pemain kelas atas yang berkarier di klub-klub besar Eropa seperti Barcelona, Manchester United, dan Real Madrid.
Prediksi saya ternyata benar, tetapi juga salah. Hari itu, justru Timnas AS yang memberikan kejutan dengan menghancurkan Uruguay dengan skor 5-1. Sebastien Berhalter mencetak satu gol, sementara Alex Freeman menyumbang dua gol. Setelah pertandingan, pelatih Uruguay, Marcelo Bielsa, mengungkapkan kekecewaannya bahwa tim utama mereka kalah dari tim cadangan AS. Pochettino pun menanggapi dengan tegas anggapan bahwa timnya tidak memiliki pemain reguler.
“Saya benci dengan pertanyaan tentang ‘pemain tidak reguler’,” tegas Pochettino. “Apa artinya itu? Ini adalah tim nasional. Hentikan pola pikir tersebut. Setiap keputusan untuk memilih pemain inti adalah tentang Timnas AS.” Pochettino kemudian menekankan pentingnya menghargai semua pemain yang ada dalam skuad.
Menjelang laga terakhir grup melawan Turki, di mana kedua tim tidak memiliki kepentingan untuk lolos, kemenangan melawan Uruguay bulan lalu bisa menjadi cerminan pendekatan Pochettino. Timnas AS diperkirakan akan merotasi pemain yang terancam kartu kuning seperti Tyler Adams, Chris Richards, Folarin Balogun, dan Antonee Robinson untuk menghindari suspensi di babak 32 besar. Keputusan mengenai Christian Pulisic, jika ia dinyatakan siap bermain, akan bergantung pada penilaian Pochettino dan tim medis terkait risiko dan manfaatnya.
Pochettino telah menunjukkan bahwa tidak ada satu pun pemain yang lebih penting dari yang lain sejak ia menjabat sebagai pelatih. Ia membangun skuad Gold Cup dengan para pemain yang dulunya dianggap tidak memiliki peluang untuk tampil di Piala Dunia, dan emosional saat skuad tersebut kalah dari Meksiko di final, karena ia percaya mereka layak mendapat lebih. Ia mendorong para pemain untuk mengutamakan tim, dan hasilnya pun memuaskan.
Saat melawan Uruguay, Timnas AS menurunkan beberapa pemain Piala Dunia seperti Freeman, Berhalter, Matt Freese, Auston Trusty, Dest, Mark McKenzie, Wright, serta para pengganti seperti Gio Reyna, Brenden Aaronson, Cristian Roldan, Max Arfsten, dan Folarin Balogun. Dari 26 pemain yang terpilih untuk Piala Dunia, 16 di antaranya tampil di laga tersebut.
Pochettino menunjukkan keyakinannya akan kontribusi setiap pemain dalam skuad. Dalam pidatonya setelah kemenangan itu, Pochettino menyatakan, “Hal terpenting adalah mengutamakan tim. Tambahkan kualitasmu ke dalam tim dan lingkungan. Prioritas selalu adalah tim.” Pochettino menekankan bahwa komitmen terhadap tim lebih besar dari sekadar nama-nama pemain, dan itu adalah kunci untuk meraih kesuksesan.